Selasa, 04 Desember 2012

PENGERTIAN SIKAP DAN PERILAKU



A. Sikap
Ada beberapa pengertian tentang sikap (attitude) dan perilaku (behavior) menurutbeberapa sumber diantaranya :Carl Jung seorang ahli yang membahas tentang sikap. Ia mendefinisikan tentang sikapsebagai "kesiapan dari psike untuk bertindak atau bereaksi dengan cara tertentu". Sikapsering muncul dalam bentuk pasangan, satu disadari sedang yang lainnya tidak disadari.Sumber di www. wikipedia.org menjelaskan sikap adalah perasaan seseorang tentangobyek, aktivitas, peristiwa dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yangmerepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang pada sesuatu.
Seseorang pun dapat menjadi ambivalen terhadap suatu target, yang berarti ia terusmengalami bias positif dan negatif terhadap sikap tertentu.Sikap muncul dari berbagai bentuk penilaian. Sikap dikembangkan dalam tiga model,yaitu afeksi, kecenderungan perilaku, dan kognisi. Respon afektif adalah respon fisiologisyang mengekspresikan kesukaan individu pada sesuatu. Kecenderungan perilaku adalahindikasi verbal dari maksud seorang individu. Respon kognitif adalah pengevaluasian secarakognitif terhadap suatu objek sikap. Kebanyakan sikap individu adalah hasil belajar sosial dari lingkungannya.
Bisa terdapat kaitan antara sikap dan perilaku seseorang walaupun tergantung padafaktor lain, yang kadang bersifat irasional. Sebagai contoh, seseorang yang menganggappenting transfusi darah belum tentu mendonorkan darahnya. Hal ini masuk akal bila orangtersebut takut melihat darah, yang akan menjelaskan irasionalitas tadi.Sikap dapat mengalami perubahan sebagai akibat dari pengalaman. Tesser (1993)berargumen bahwa faktor bawaan dapat mempengaruhi sikap tapi secara tidak langsung.Sebagai contoh, bila seseorang terlahir dengan kecenderungan menjadi ekstrovert, makasikapnya terhadap suatu jenis musik akan terpengaruhi. Sikap seseorang juga dapat berubahakibat bujukan. Hal ini bisa terlihat saat iklan atau kampanye mempengaruhi seseorang.
Lou Holtz berpendapat Ability is what you're capable of doing. Motivationdetermines what you do. Attitude determines how well you do it." (Kemampuan adalah apayang Anda mampu lakukan. Motivasi menentukan apa yang Anda lakukan. Sikapmenentukan seberapa baik Anda melakukannya.)Funmi Wale-Adegbite berpendapat “Success is 80% attitude and 20% aptitude."(Sukses adalah 80% sikap dan 20% bakat)Diktat pada mata kuliah Psikologi Umum Jurusan Psikologi Pendidikan DanBimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, perilaku adalahsegenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dariperilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang paling dirasakan sampaiyang paling tidak dirasakan.
(Sikap adalah suatu hal kecil, tetapi dapat menciptakan perbedaan yang besar). Sikapberperan sangat penting terhadap kesuksesan atau kebahagiaan seseorang. Sejumlah ilmuwandari universitas terkemuka di dunia mengungkapkan bahwa manusia dapat menggalipotensinya secara lebih mendalam dan luas dengan sikap yang positif. Berdasarkan hasilpenelitian terhadap ribuan orang-orang yang sukses dan terpelajar, berhasil disimpulkanbahwa 85% kesuksesan dari tiap-tiap individu dipengaruhi oleh sikap. Sedangkankemampuan atau technical expertise hanya berperan pada 15% sisanya.
Faktor-Faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam upayapengendalian penyakit flu burung

Penelitian tentang factor-faktor yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam upaya pengendalianpenyakit flu burung di kecamatan Bogor Utara. Tujuan umum penelitian ini adalah ingin mengetahui faktorfaktorapa saja yang dapat mempengaruhi perilaku masyarakat dalam upaya pengendalian flu burung diKecamatan Bogor Utara. Sedangkan tujuan khususnya antara lain : i) Ingin mengetahui perilaku masyarakatdalam upaya pengendalian Flu Burung; ii) Ingin mengetahui apakah faktor pendidikan memiliki pengaruhterhadap perilaku masyarakat dalam upaya pengendalian penyakit flu burung; iii) Ingin mengetahui apakahfaktor pengetahuan memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam upaya pengendalian penyakit flu
burung; iv) Ingin mengetahui apakah faktor sikap memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat dalamupaya pengendalian penyakit flu burung; v) Ingin mengetahui apakah faktor penghasilan memiliki pengaruhterhadap perilaku masyarakat dalam upaya pengendalian penyakit flu burung; vi) Ingin mengetahui apakahfaktor pengalaman memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam upaya pengendalian penyakit flu
burung; vii) Ingin mengetahui apakah faktor akses terhadap informasi memiliki pengaruh terhadap perilakumasyarakat dalam upaya pengendalian penyakit flu burung; viii) Ingin mengetahui apakah penyuluhanmemiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam upaya pengendalian penyakit flu burung; ix) Inginmengetahui apakah faktor sarana dan prasarana memiliki pengaruh terhadap perilaku masyarakat dalamupaya pengendalian penyakit flu burung. Kegunaan secara teoritis : 1) sebagai sumbangan penting dan dapatmemperluas wawasan bagi kajian ilmu kesehatan hewan dalam mencegah terjadinya pandemi di negara kita.
2) sebagai sumbangan penting dan dapat memperluas wawasan bagi kajian ilmu kesehatan hewan yangmenyangkut pencegahan dini penyakit Flu burung Kegunaan secara praktis : hasil penelitian ini dapatdijadikan masukan bagi Pemerintah khususnya Dinas Agribisnis Kota Bogor untuk merencanakan programpengendalian penyakit Flu burung agar kota Bogor menjadi wilayah bebas Flu burung. Penelitian inidilakukan di Kecamatan Bogor Utara . Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai yangbersifat deskriptif dengan sampel sebanyak 200 orang pemilik unggas dan menggunakan analisis regresi
dengan SPSS 10. Hasil penelitian ditemukan bahwa besarnya pengaruh secara simultan antara pengetahuan,pendidikan, sikap dan sarana prasarana terhadap perilaku pemilik unggas adalah sebesar 34,1% dan sisanya65.9% ditentukan oleh variabel lain. Sedangkan untuk besar kecilnya pengaruh ditentukan oleh nilaikoefisien korelasi langsung ( koefisien p). Dari hasil penelitian ini 1) besarnya pengaruh variabel
pengetahuan terhadap perilaku pemilik unggas adalah 0,007 sedangkan tingkat signifikan koefisien korelasimenghasilkan angka 0,915. Karena probabilitas lebih besar dari 0,05 maka pengaruh antara variabelpengetahuan dengan perilaku pemilik unggas tidak signifikan. 2) besarnya pengaruh variabel pendidikan
terhadap perilaku pemilik unggas adalah 0,048 sedangkan tingkat signifikan koefisien korelasi
menghasilkan angka 0,423. Karena probabilitas lebih besar dari 0,05 maka pengaruh antara variabelpendidikan dengan perilaku pemilik unggas tidak signifikan. 3) besarnya pengaruh variabel sikap terhadapperilaku pemilik unggas adalah 0,229 sedangkan tingkat signifikan koefisien korelasi menghasilkan angka0,000. Karena probabilitas jauh dibawah 0,01 atau 0,05 maka pengaruh antara variabel sikap dengan
perilaku pemilik unggas sangat signifikan. 4) besarnya pengaruh variabel sarana prasarana terhadap perilakupemilik unggas adalah 0,461 sedangkan tingkat signifikan koefisien korelasi menghasilkan angka 0,000.Karena probabilitas jauh dibawah 0,01 atau 0,05 maka pengaruh antara variabel sikap dengan perilakupemilik unggas sangat signifikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemilik unggas dalam upayapengendalian penyakit flu burung dipengaruhi oleh 1) faktor predisposisi (Predisposisi factors) melalui
variabel penghasillan, pengalaman, pendidikan, pengetahuan dan sikap , 2) faktor pemungkin (Enablingfactors) melalui variabel sarana dan prasarana, 3) faktor penguat (Reinforcing factors) yang dapat diukurmelalui Undang-Undang atau Peraturan-Peraturan, pemberdayaan masyarakat melalui kaderisasi vaksinatoryang dalam penelitian ini hanya dilakukan dengan menggunakan data kualitatif serta 4) promosi kesehatan(Health promotion) yang diukur melalui variabel penyuluhan dan akses informasi, hal ini menguatkan teoriGreen tentang perilaku kesehatan yang digunakan sebagai landasan teori. Saran yang diberikan penulis :
Untuk mengendalikan penyakit flu burung ini diperlukan upaya peningkatan sosialisasi agar masyarakatmau berperilaku positif terhadap pengendalian flu burung, Perlu ditingkatkan penyebaran informasi dengancara melakukan sosialisasi dan penyuluhan secara terus menerus dalam pencegahan dan penanggulanganpenyakit Flu burung ini. Mengembangkan peran serta masyarakat dalam pencegahan secara dini flu burungtersebut. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat faktor penguat (Reinforcing factors)berpengaruh terhadap perilaku yang belum ada di dalam model analisa pada penelitian ini.

Nilai Budaya Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Banyak pendapat yang menjelaskan tentang Budaya. Salah satu pengertian Budaya adalah segala nilai, pemikiran, symbol yang mempengaruhi perilaku, sikap, kepercayaan, dan kebiasaan dalam masyarakat. Budaya juga dapat diartikan sebagai seperangkat pola perilaku secara social yang diteruskan melalui bahasa, symbol, dan cara-cara lain dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam masyarakat tertentu.
Budaya memiliki aspek-aspek yang terdiri atas area fungsional berupa ekologi, yang merupakan system adaptasi pada habitat atau lingkungan. Kemudian Struktur social juga merupakan aspek budaya yang merupakan wilayah yang berfungsi sebagai penjaga ketertiban kehidupan social. Ideologi juga merupakan aspek budaya yang merupakan karakteristik mental dari orang-orang dalam suatu masyarakat dan cara-cara mereka berhubungan dengan lingkungan dan kelompok social lainnya.
Budaya juga memiliki unsur-unsur seperti ;
Nilai.
Nilai adalah kepercayaan atau segala sesuatu yang dianggap penting oleh seseorang atau suatu masyarakat. Nilai bisa berarti sebuah kepercayaan tentang suatu hal, seperti halnya warna. Misalnya warna merah bagi bangsa China berarti keberuntungan. Bagi bangsa Indonesia berarti Berani. Sedangkan di Inggris, merah berarti bahaya.
Nilai mempengaruhi sikap seseorang, dan sikap mempengaruhi perilaku. Nilai-nilai yang dianut di Indonesia banyak sekali diantaranya adalah ; Laki-laki adalah kepala keluarga, orang tua dan orang yang lebih tua harus dihormati, hamil diluar nikah aib, dan sebagainya. Dalam perkembangannya pemahaman nilai-nilai tersebut mengalami distorsi seperti ; pemahaman banyak anak banyak rejeki telah berubah karena adanya program Keluarga Berncana menjadi Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera. Dahulu Perempuan memakai kain jarik karena memakai celana panjang dianggap kurang etis, namun sekarang semakin banyak perempuan yang menggunakan celana panjang.
Norma.
Norma lebih spesifik daripada nilai. Norma adalah aturan dalam masyarakat tentang sikap baik dan buruk, perintah dan larangan. Norma terdiri dari dua macam yakni ; Norma Resmi, yaitu norma yang disepakati berdasarkan aturan pemerintah dan ketatanegaraan, biasanya berbentuk undang-undang. Jika dilanggar akan dikenai sangsi. Yang kedua adalah Norma tidak resmi. Norma ini lahir dan berada dalam budaya sehingga dipahami untuk dijalankan jika orang tersebut berinteraksi dengan orang-orang dari budaya yang sama. Norma tidak resmi ini terdiri dari tiga jenis yaitu ; Kebiasaan, Larangan dan Konvensi.
Simbol.
Simbol adalah segala sesuatu (benda, nama, warna, konsep) yang memiliki arti penting lainnya (makna budaya yang diinginkan) seperti ; Mobil Kijang, merek mobil Toyota, Panther merek mobil Isuzu, Kuda merek mobil Mitsubishi, Kuku Bima adalah jamu kuat lelaki.
Ada enam dimensi nilai budaya pada berbagai budaya yang berbeda yaitu Dimensi Individual versus Kolektif. Ada budaya yang mementingkan nilai-nilai individual dibandingkan nilai-nilai masyarakat, dan ada juga budaya yang mementingkan nilai-nilai kelompok dari pada nilai individual. Dimensi Maskulinitas versus Feminitas. Dimensi ini memandang bagaimana peran pria melebihi peran perempuan, atau bagaimana prian dan wanita membagi peran. Kemudian Dimensi Berorientasi Waktu. Yaitu dimensi yang memandang sikap masyarakat yang berperilaku dengan orientasi masa lalu, masa kini, atau masa depan. Dimensi yang Menghindari ketidakpastian. Yaitu budaya suatu masyarakat yang berusaha menghindari ketidakpastian dan membangun kepercayaan yang bisa menolong mereka menghadapi hal itu. Dan dimensi hubungan dengan alam. Yaitu dimensi bagaimana suatu masyarakat memperlakukan alam apakah sebagai pendominasi alam atau justru menjalin harmoni dengan alam.
Ritual
Ritual adalah urut-urutan tindakan yang terstandarisasi dengan diulang-ulang secara periodic sehingga member arti yang meliputi penggunaan symbol-simbol budaya. Ritual ini dilakukan secara serius dan formal serta memerlukan intensitas yang sangat dalam dari mereka yang melakukan ritual. Biasanya acara ritual memerlukan benda-benda (artefak) yang digunakan untuk melakukan proses. Dalam kaitan perlaku konsumen, benda-benda inilah yang dapat menjadi peluang usaha.
Budaya Populer
Budaya Populer adalah budaya masyarakat banyak yang hamper berada di seluruh Negara. Budaya popular mudah dipahami oleh sebagian besar anggota masyarakat, karena mereka tidak memerlukan pengetahuan yang khusus untuk memahamibudaya popular ini. Budaya popular dapat dibeli dengan mudah, karenanya budaya popular inilah yang lebih banyak mempengaruhi perilaku konsumen. Banyak sekali contoh budaya popular seperti ; Iklan, TV, Radio, Musik, Mode pakaian, Asesoris, Games, Film, computer, twtter, facebook, internet, web, blog, dan masih banyak lagi.
Dengan budaya Populer inilah, perilaku konsumen lebih dapat diamati dan di segmentasi sehinga para pemasar akan lebih mudah membidik sesuai dengan budaya yang sedang popular. Seperti twitter dan facebook sekarang dijadikan sarana promosi yang murah dan sangat luas.


Mempengaruhi perilaku

KARAKTERISTIK DAN PERILAKU MANUSIA
Karakteristik dan Hakikat Manusia
Unsur manusia adalah unsur yang paling vital di dalam organisasi. Ia dapat menggagalkan dan mendukung keberhasilan usaha pencapaian tujuan organisasi. Hal ini disebabkan oleh sifat yang unik dalam diri manusia.
Manusia memiliki perbedaan masing-masing, yang disebabkan oleh adanya perbedaan kemampuan, latar belakang, aspirasi, dll. Motivasi kerjanya juga sangat bergantung pada perbedaan-perbedaan yang khas tersebut. Oleh sebab itu, kita perlu memandang manusia secara menyeluruh, utuh, dan dalam integritas pribadi.
Sikap dan Perilaku
Sedikitnya ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk memahami perilaku manusia, yaitu pendekatan kognitif, pendekatan kepuasan, dan pendekatan psikoanalisis.
Pendekatan kognitif memanfaatkan munculnya perilaku sebagai jawaban (respons) dari adanya rangsangan (stimulus) yang diterima orang-orang. Pendekatan kepuasan menunjukkan bahwa seseorang akan merasa puas apabila kebutuhannya dapat terpenuhi, dan pekerjaan yang diterimanya menarik dan menantang kemampuannya.
Dari pendekatan psikoanalisis, diketahui ada tiga unsur yang dapat menyebabkan perilaku seseorang, yaitu id, ego dan super ego yang masing-masing dapat saling bertentangan. Id merupakan unsur yang menyebabkan munculnya perilaku tanpa mempedulikan unsur yang lain. Akan tetapi dua unsur yang lain juga dapat saling mendukung atau saling menolak terhadap keinginan id. Interaksi ketiga unsur tersebut mengakibatkan munculnya perilaku tertentu.
Teori Kepribadian
Sebenarnya, masalah perilaku manusia sangat sulit diramalkan kemunculannya. Sangat bergantung kepada kepribadian yang juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dan faktor keturunan, yang tentu saja akan berbeda bagi masing-masing individu. Cara ia merespons terhadap rangsangan lingkungan sangat berbeda, sehingga kita sulit meramalkan perilaku, kecuali kita dapat memahami lingkungannya.
Di sisi lain, ada pendekatan ciri yang dapat menunjukkan kecenderungan konsistensi perilaku seseorang, sebab ciri dianggap bagian yang membentuk kepribadian dan penunjuk perilaku. Namun pendapat ini banyak dikritik, sebab ciri tidak dapat dibuktikan secara kausal terhadap perilaku. Ciri juga tidak dapat memberikan pengertian tentang perkembangan dan dinamika kepribadian. Ciri juga tidak memberikan perhatian dengan situasi pekerjaan.
Sigmund Freud mengatakan bahwa kehidupan ketika manusia tumbuh dari kecil mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku setelah ia dewasa, khususnya faktor-faktor ketidaksadaran.
Peran dan Perilaku
Dalam kehidupannya, tanpa disadari, sebenarnya masing-masing orang telah membawakan perannya, baik tunggal maupun ganda, baik dalam kehidupan sehari-hari di rumah maupun di dalam organisasi.
Fungsi peran di dalam organisasi sangatlah penting, agar tidak terjadi konflik dan kerancuan peran antara satu anggota dan anggota lainnya. Fungsi tersebut diperjelas dengan adanya uraian tugas (job description), yang menunjukkan posisi seseorang dalam organisasi, termasuk batas-batas wewenangnya, kekuasaan, hak, kewajiban, dll.
Persepsi terhadap fungsi peran tersebut dapat mempengaruhi perilaku seseorang dalam organisasi dan kinerja individu serta kelompok atau organisasinya.
PENGERTIAN BUDAYA, BUDAYA ORGANISASI DAN KINERJA, TEORI DAN PROSES ORGANISASI
Pengertian Budaya dan Pembentukan Perilaku
Budaya dan Perilaku Organisasi saling terkait satu sama lain, dalam arti budaya mempengaruhi sikap dan perilaku anggota masyarakat dari mana budaya mereka berasal. Sikap dan perilaku anggota yang berasal dari budaya masyarakat tersebut terbawa ke dalam organisasi yang ia masuki. Sikap dan perilaku anggota yang khas tersebut merupakan karakteristik individu, akan mempengaruhi karakteristik organisasi sehingga akan mempengaruhi pula perilaku organisasi. Cara organisasi mencapai tujuannya bergantung kepada cara individu mencapai tujuannya, yang dipengaruhi oleh budaya dari mana individu berasal. Budaya organisasi, dengan demikian, juga akan dipengaruhi oleh budaya masyarakat asal anggota.
Budaya Organisasi dan Kinerja
Budaya organisasi, secara operasional, akan mempengaruhi kinerja organisasi bersangkutan. Dalam budaya organisasi kuat, maka tujuan organisasi dapat dicapai secara baik. Sedangkan dalam budaya organisasi yang lemah, tujuan organisasi kurang dapat dicapai dengan baik. Kuat dan lemahnya budaya organisasi dapat dilihat dari beberapa kriteria, antara lain adanya arah yang selaras antara nilai-nilai inti dan tujuan organisasi, tingkat penghayatan nilai budaya organisasi oleh para anggotanya, dan ketaatan kepada nilai budaya oleh para anggotanya. Selain itu, budaya organisasi yang kuat dapat dilihat dari cici-ciri yang disampaikan oleh Tom Peters dan Robert Waterman, dengan kata kunci “organisasi yang kuat dan unggul”, serta memiliki visi dan misi yang jelas.
Teori dan Proses Organisasi
Dalam teori organisasi dapat dipahami bagaimana organisasi dapat berproses, para anggotanya saling berinteraksi, dan tetap hidup dan berkembang. Proses organisasi tidak lepas dari peranan dan perilaku setiap anggotanya dalam berinteraksi. Dalam proses tersebut ada kemungkinan terjadinya kemenduaan peranan dan konflik, yang mau tidak mau akan melibatkan kelompok untuk dapat menyelesaikan konflik tersebut. Demikian juga, kita dapat memahami perilaku organisasi dari sudut pandang mikro dan makro, serta organisasi sebagai sistem dan sistem sosial.
Suatu organisasi, dalam era global, mau tidak mau, harus beradaptasi dengan era global tersebut yang tentunya penuh dengan perubahan yang cepat dan persaingan yang semakin tajam. Beberapa strategi yang harus dimainkan oleh organisasi agar tetap survive dan berkembang, bergantung kepada beberapa hal, antara lain perubahan yang harus dilakukan dalam lingkup internal dan eksternal, disain organisasi yang adaptif dan luwes menghadapi perubahan, termasuk bagaimana organisasi dapat beroperasi secara efektif dan efisien. Bagaimana cara memotivasi orang-orangnya, peningkatan mutu dan jumlah produk perlu diperhatikan, selain kecepatan pelayanan kepada para pelanggan. Perlu memperhatikan juga perkembangan teknologi komunikasi, karena berkaitan dengan ketersediaan, keakuratan, dan kecepatan memperoleh informasi. Selain itu, kita juga sangat perlu memperhatikan sikap dan perilaku anggota organisasi dan keterkaitannya dengan kinerja. Kepuasan para anggota organisasi akan mempengaruhi kinerja organisasi secara keseluruhan.
GAYA KEPEMIMPINAN
Perbedaan Manajer dan Pimpinan
Di dalam organisasi, manajer bertugas mengelola organisasi dengan cara menggunakan kemampuan menjalankan fungsi-fungsi manajemen (perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian/pengawasan) serta memanfaatkan unsur-unsur manajemen (manusia, material, uang, mesin, metode dan pasar), secara efisien dan efektif. Tugas ini dilandasi oleh aspek legalitas, artinya ada surat keputusan yang mengesahkan kewenangannya.
Manajer dapat menjadi pemimpin apabila ia mampu menggerakkan bawahan di dalam organisasi tanpa menggunakan aspek legalitas yang ia miliki. Namun, pemimpin itu sendiri, adalah orang yang mempunyai kemampuan menggerakkan orang lain tanpa dilandasi oleh aspek legalitas, tetapi oleh aspek pengakuan dan kesetujuan.
Gaya Kepemimpinan
Salah satu faktor penentu keberhasilan mempengaruhi orang lain, adalah gaya kepemimpinan, dan kunci efektivitas gaya ini, adalah “mengharmonisasikan” kepentingan karyawan dan organisasi.
Namun, permasalahan yang berpengaruh terhadap efektivitas gaya kepemimpinan, adalah bagaimana memahami unsur manusia yang diyakini sangat kompleks dan bagaimana mencapai tujuan organisasi melalui penyelesaian tugas-tugas. Kedua masalah tersebut dapat mempengaruhi cara manajer menerapkan pelbagai konsep gaya kepemimpinan.
Kepemimpinan Situasional/Kontigensi
Gaya kepemimpinan akan efektif, apabila melakukan orientasi tugas dan orientasi hubungan. Reddin menambahkan lagi dengan satu orientasi, yaitu keefektifan, dengan mengacu kepada asumsi teori ‘X’ dan ‘Y’ yang disampaikan oleh Douglas McGregor. Dari model Reddin ini,kemudian dikenal ada empat gaya yang efektif dan empat gaya yang tidak efektif.
Hersey dan Blanchard memberikan model dan gaya kepemimpinan situasional yang efektif yang didasarkan pada tingkat kematangan bawahan, yaitu dari M1 (belum dewasa) sampai dengan M4 (dewasa).
Bagi orang-orang Indonesia, dikenal gaya kepemimpinan yang disampaikan oleh Ki Hadjar Dewantoro, yang dikenal dengan konsep ing-ing-tut. Gaya kepemimpinan perlu disesuaikan dengan tingkat kematangan bawahan, mulai dari memberikan keteladanan sampai dengan mendorong bawahan agar maju dan atasan hanya memberi nasihat serta memberikan fasilitas bagi kepentingan organisasi.

Sumber :
http://suryanto-bogor.blogspot.com/2011/12/mempengaruhi-sikap-dan-perilaku.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar